Sejak kemarin, murungku hilang. Aku kembali senang, bahagia tak terkira.
Rupa rupanya bukan taufan, bukan store neraka, bukan bulbul gila, bukan pula balasan ilymo yang sudah jarang kudapat darimu yang membuatku murung belakangan.
Tapi, sedihmu itu sendiri.
Ya, aku sedih melihatmu sedih.
Terlebih, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuatmu senang.
Jikalau belakangan ini senangmu adalah taufan, dan band bandan, dan waktu luangmu untuk menjauh dari store, nikmatilah sayang. Aku turut senang, sungguh.
Barangkali aku memang sedang tidak menjelma menjadi bahagiamu seperti kemarin kemarin.
Karena kusadari, sejak awal aku mengenalmu hingga kita sejauh ini, tujuanku hanya satu: memastikan kamu tersenyum setiap hari.
Hanya saja aku kelepasan dan jadi berharap banyak. Tapi tidak, tidak.
Kasih yang kudapat darimu sudah lebih dari cukup dari yang pantas kudapatkan. Kabar kabar via whatsapp itu, sudah menjadi gembiraku setiap saat.
Oh... Tidak juga. Bahkan memastikan kamu tetap ada, bernafas, tertawa dan menikmati harimu, aku sudah senang.
Oh... Karena memang kamu kebahagiaanku.
Sudah, itu saja.
Jadi, bersenang senanglah sayang.
![]() |
| Ya, betul. Tetaplah tersenyum seperti itu. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar