Untuk sementara, lupakanlah benar salah. Sudahlah.
Pada titik ini, aku masih ingin bersamamu, Ki.
Setidaknya menurutku aku sudah berusaha menunjukkan bahwa aku masih ingin kita baik baik saja.
Karena, tentu aku masih sayang.
Seolah olah masalah sepele, dan diary sampah pria cengeng itu bisa mengusik rasa sayangku. Aku tetap disini, sayang.
Malam ini aku sedikit lelah.
Biasa, over feeling. Over thinking.
Terlebih, kamu semakin tidak mau bicara sedikitpun padaku hari ini.
Tentu, tentu hatimu saat ini juga sedang sakit sakitnya. Aku tahu. Aku minta maaf sekali lagi jika aku membuatmu kehilangan temanmu, atau aku membatasi kebebasanmu, sungguh. Kuharap kamu bisa menemukan teman teman lain di lain hari.
Sejak kemarin aku minta untuk dikuatkan. Jika tak berkenan bilang sayang, bicaralah,sedikit, saja. Tunjukkanlah kalau kita tidak saling membenci, karena memang tidak seperti itu.
Atau, apa kamu serius sudah benar benar membenciku? Secepat dua jam percakapan kita malam itu?
Kurasa tidak.
Kamu hanya marah.
Aku, pun.
Tapi, belum tentu juga. Bisa jadi ternyata tidak seperti apa yang kupikirkan.
Setidaknya, pertanyaan siapa aku dan siapa kamu sekarang benar benar menguasai pikiranku sepenuhnya. Terlebih, bagian ter-anggap sekedar teman kerja rupanya membuatku sedikit gentar juga. Sedikit..
Sekarang, semuanya begitu kabur di kepalaku. Aku tak tahu aku ini siapa, berarti apa buatmu, berhak berharap apa, dan harus bagaimana.
Kalau memang, kamu merasa kesenangan kita lima bulan terakhir masih bisa dilanjutkan, beri tahulah aku. Bicaralah. Sedikit kode juga tak apa. Lalu kita bisa kembali saling menyayangi.
Tapi jika tidak, juga tak apa. Aku tak ingin membuat semuanya berlarut larut. Tak enak, bukan?
Kemudian, kita bisa berteman baik lagi.
Aku masih tunggu di rumah pinkmu, Ki.
Lagipula, kamu masih berhutang satu surat cinta padaku yang kau janjikan hari sabtu lalu.
Selepas dari pantai nanti, apa yang ada disitu akan kuanggap sebagai jawaban ya.
Untuk sementara, jaga dirimu baik baik ya.
I love you, Kinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar