Selasa, 28 Juni 2016

ndut mara

Ndut maraya?
Engga?
Masaak?
Ciee mara yaa?
Mara ni yee bunganya kebuang di tong sampah.

Ciyeee.
Mara kenapa si ndut?
Bunganya bagus ya soalnya?
Iya deeh maaf. Besok aku bawain bunga yang bagus juga ya. Dua deh, sama ganti yang kemarin.
Udah kan?

Mara kenapa lagi dong?
Takut nanti mas Topan sedih?
Nggapapa kok dia ndut. Nanti kalo mara suru langsung ke Kobo deh, ya Opan yaa.
Jangan ngambek ngambekin Kak Ki yaa. Cupcup. Katanya ga mau bikin kepalanya pecah kan?
Uda jan ngambek ya Opan nanti Kobo yang kena sensi.

Kalo mo ngambek ke Kobo aja Pan.
Nanti tinggal Kobo bilang aja, abisan Opan panggil panggil Ki sayang ga bilang Kobo kan. Kobo juga ngapain bilang bilang kalo buang bunga Opan. Ups.

Beneran Kobo cuma becanda.
Bebas, Opan mo sayang Ki, atau Ki mo sayang Opan balik ya bebas juga. Kobo ga mara suer. Orang Kobo ni cuma teman kerja ini. Cuma mo gangguin doang bole kan. Serius banget.
Abisan katanya dibikin asik aja. Kobo uda asik. Kak ki yang mara :(.
Tuh tuh kan kak Ki yang mara. Gacik.

Kalo Kobo mah,
ip ip uraa!
Tuh tuh Kobo dimarain tuh

Minggu, 19 Juni 2016

Tetangga

Yayang lagi anterin Ki pulang.
Semenjak partime, Ki jarang nginep. Kalo Yayang nginep rumah Uti, susah yang yangan.
Jadi, pas itu, udah deket rumah Yayang bermaksud kecup tangan Ki.
Sebelum nyampe rumah, gitu. Sebelum dilihat Uti.

Y: daaah, sampai ketemu lagi. *kecup tangan*
Ki: yaa. Tapi jan kecup juga dong.
Y: kan tangan doang, belum sampe rumah pun, ga kiatan Uti.
Ki: iya, tapi kan ada tetangga.
Y: iyaa, dikit. Tetangga ini, ga paham ah.
Ki: Hm.

Trus sampe depan rumah Uti.
Ga ada orang di depan pintu. Hore!
Dadah dadah sebentar, lalu Yayang putar balik motor dan beranjak.
Baru jalan 5 meter, ada yang keluar dari warung samping rumah dan panggil Yayang.
"Emil!" katanya.

HAI! BULEK! PULANG DULU YA!
😂


Bulek Tanti loh. Dong. Kan. Hallloo.
Pffffft! Ubahlah Yayang jadi kodok.
Atau
Plis hilangkanlah ingatannya.

Ha gimana, di ruma Uti gaisa tumpuk tumpukan gini.

Minggu, 12 Juni 2016

Gabisa mikir judul karena kepikiran dua kerbau cantik melulu

Hai Kak Ki, kesayanganku selalu.
Lagi lagi aku terbangun, terlanjur jreng dan nggatau mau ngapain selain kangenin Ki. Asek.

Hm. Apa ya.

Pertama tama, seperti biasa, aku rindu. Minggu minggu menjadi melelahkan sejak kita jarang bertemu. Routine kills. I’ve killed myself by adapting me in this situation. Terlalu banyak kesenangan yang berselisipan. Ah, begitulah.

Beberapa waktu belakangan, yang terjadi setiap kita mencoba bersenang senang adalah Ki hanya bisa menunggu selesainya shiftku yang berlarut larut sembari bermain dengan Topan, dan aku hanya bisa mencemaskan kabar Ki yang sering hilang sambil bertanya tanya apakah kita akan punya waktu untuk dihabiskan bersama pada hari ini. Lalu, yang tersisa hanya remahan tenaga dan mood untuk saling mendengar kabar harian masing masing. Hampir tak ada petualangan, kejutan, bahkan sekedar gagasan baru. Malah, yang sering datang adalah kekangenan, eh, kerinduan, kecemasan, kekesalan, pertanyaan pertanyaan dan sayang sayang yang tak tersampaikan.

Pola yang lumayan melelahkan, ya. Setidaknya bagiku.

Nah. Mumpung Ki ada libur panjang, aku pun ada libur dua hari di penghujung minggu nanti, maka I dare you to play a game. Let’s have some fun and hit back the pattern, baby. This game called “How It Feels, The World without Fish n Fries and You”.

Jadi, mari kita bereksplorasi. Apa yang akan terjadi, jika kita melewatkan Friesday seminggu, saja? Bagaimana rasanya? Adakah yang berubah dari Fish n Fries saat kita bertemu dengannya lagi nanti? Adakah makanan yang lebih enak dari Fish n Fries untuk menemani kencan kencan kita nanti? Jangan jangan saking rindunya, aku bisa beli sekaligus tiga nantinya, tanpa kentang. Atau di tengah permainan aku diam diam makan Fish n Fries sendirian, bisa jadi.

Untuk membuatnya semakin berbumbu, mari kita sekalian eksplor. Bagaimana sih rasanya, jika kita melewatkan seminggu saja, tanpa “kita”? Apa yang terjadi jika Ki tak punya aku, dan aku tak punya Ki? Seminggu saja. Mari tak saling beri kabar. Lalu dalam seminggu ini, lakukanlah percobaan sebebas bebasnya. Bermainlah dengan banyak orang, pergilah kemping, nonton Artjog, makan es cepot, main recorder di bukit bintang, belajar surfing, naik gunung, coba coba sayangi orang asing, apapun. Gila gilaan. Lupakan kita sejenak, carilah hal menarik dan menyenangkan sebanyak banyaknya. Pokoknya, kita berpura pura tak saling kenal saja seminggu ini. Kita lihat, seperti apa bentuk rindu itu setelah seminggu tak saling berkabar. Kita lihat juga, barangkali, jangan jangan, atau ternyata apa yang muncul nanti? Atau ternyata tak ada yang menarik sama sekali, bisa juga.

Setidaknya kita bermain, kan.

Seusainya permainan ini nanti, semua tentu dikembalikan lagi secara utuh. Friesday akan berjalan rutin lagi. Kobo dan Ki akan saling sayang level dewa lagi. Utuh. Bagaimana, mau coba? Kita pause dulu interaksi, dimulai saat Kobo shift Senin pagi ini ya?

Dont worry, it’s just a game baby. So we don’t get into the autopilot mode, nah?

Jadi, kita akan bertemu lagi hari Senin depan, ehm, selepas shift closingku di Mc D dan kursi yang biasanya ya. Untuk saling bertukar cerita dan mengakhiri permainan ini. Ki boleh tunggu di rumah atau dimanapun, nanti aku yang akan menjemput. Asik? Nanti aku wasap deh biar tak selisipan, kan sudah selesai permainannya, lagendu.

Mengetik ini saja, aku sudah tak sabar menanti rindu yang menghambur pada hari akhir permainan ini. Oh iya, selama kita tak bertemu, tulislah hal hal yang ingin kamu bagi. Ceritakanlah hari harimu. Aku juga akan begitu. Nanti, kita posting di blog masing masing di hari Senin pagi itu ya.
Bagaimana, deal?

Jadi, sampai bertemu lagi, secepatnya!
I love you, Ki. More than I love the wink of Ariana Grande.


Sincerely,

Your Kobo.

Sabtu, 11 Juni 2016

seneng banget. seneng wae.

Kuseneng banget. Kemarin disamper Ki sepulang kerja. Lalu pulang bersama, tidur bersama, sahur bersama. Sekalipun esoknya tak jadi kerja bersama.

Tidur di kamar gelap gelapan, walau peluk dan ciumnya sedikit sambil colong colong, kusenang. Ngobrolnya pun tak banyak, karena sudah larut. Sahur ayam rempah masakan Uti. Temani Ki makan popmi dan minum susu pisang, nyaman sekali hati ini. Seperti...ini Ki ku! Ini dia! Kesayangan aku!

Sudah jarang sekali yayang bisa habiskan waktu bersama ki. Masih sering ketemu sih. Tapi berkurang drastis tis tis dibanding pas kita masih sering seshift dulu. Sekarang waktunya sering selisipan.

Jadi sekalinya bertemu dan sayang sayangan lagi, beuh senangnya pecah. Ambyar. Turah turah. Seperti ingin bersyukur kepada Alloh. Rasanya setiap ada waktu luang sedikiit, pengennya bareng Ki. Nih ya. Lagi PCPC, pengennya wasap Ki. Lagi klostil, cek wasap lagi. Lagi isiin cv customer, sambil wa Ki lagi. Ke toilet sebentar, ya sambil bawa HP. Libur, kerja, siang, malam, rasanya pengen ketemuu terus. Pengen wasapan deh setidaknya.

Yayang sedang sering seringnya sedih sih, abis susah ternyata kalo jarang bertemu. Kangen teros!Iya iyaa. Bersyukur kok kemarin ketemu semalaman. Makasih ya Alloh. Semoga dekat dekat ini adalagi kesempatan tuk bersama. 

Yauda, gitu aja.

risih risih dah yayang kejar terus. Bodo. Sini babiutan. Wkwkwk.


Rabu, 08 Juni 2016

thanks God

Hardcore level of happiness; her kiss.
Feels like my heart cracked in one hit.
Cant handle it.

beum!

Senin, 06 Juni 2016

rindu

Dude, that pants!
That weird black and white pattern, blooming my smile.
Haha!
Im sorry.
I just missing you.


Jumat, 03 Juni 2016

Yang senang

Kak ki, apa aku sudah bilang?
Sejak kemarin, murungku hilang. Aku kembali senang, bahagia tak terkira.

Rupa rupanya bukan taufan, bukan store neraka, bukan bulbul gila, bukan pula balasan ilymo yang sudah jarang kudapat darimu yang membuatku murung belakangan.

Tapi, sedihmu itu sendiri.
Ya, aku sedih melihatmu sedih.
Terlebih, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuatmu senang.
Jikalau belakangan ini senangmu adalah taufan, dan band bandan, dan waktu luangmu untuk menjauh dari store, nikmatilah sayang. Aku turut senang, sungguh.
Barangkali aku memang sedang tidak menjelma menjadi bahagiamu seperti kemarin kemarin.
Karena kusadari, sejak awal aku mengenalmu hingga kita sejauh ini, tujuanku hanya satu: memastikan kamu tersenyum setiap hari.
Hanya saja aku kelepasan dan jadi berharap banyak. Tapi tidak, tidak.
Kasih yang kudapat darimu sudah lebih dari cukup dari yang pantas kudapatkan. Kabar kabar via whatsapp itu, sudah menjadi gembiraku setiap saat.

Oh... Tidak juga. Bahkan memastikan kamu tetap ada, bernafas, tertawa dan menikmati harimu, aku sudah senang.
Oh... Karena memang kamu kebahagiaanku.
Sudah, itu saja.


Jadi, bersenang senanglah sayang.
Ya, betul. Tetaplah tersenyum seperti itu.